Harap Tunggu…

UNU Kalsel : Dari NU untuk Banua Maju

Tim Dokumentasi Aswaja Center  Kalimantan Selatan

 

NU adalah singkatan dari Nahdlatul Ulama. Secara literlik maksudnya adalah “Kebangkitan Para Ulama.  Tetapi secara terminologis, instuti keagamaan ini menggambarkan tentang adanya gerakan dari kaum ulama dan kaum cerdik pandai, dalam menghadapi gerakan transnasional di tingkat dunia, seperti kolonial asing yang kala itu begitu dahsyat menjajah di nusantara ini, selain menguatnya gerakan kaum Wahabi di Saudi Arabia yang ingin merubah tradisi kaum Sunni di seluruh dunia.

Dalam konteks Indonesia, NU adalah organisasi keagamaan sekaligus organisasi kemasyarakatan terbesar, bahkan ke tingkat dunia. Jam’iyah ini mempunyai makna penting dan ikut menentukan perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Sebagai jam’iyah, NU lahir dan berkembang dengan corak dan kulturnya sendiri. Organisasi ini berwatak keagamaan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Karena itu, maka NU menampilkan sikap akomodatif terhadap berbagai madzhab keagamaan yang ada di sekitarnya.

NU tidak pernah berfikir menyatukan semua orang, apalagi menghilangkan mazdhab-mazdhab keagamaan yang ada. Sebagai organisasi kemasyarakatan, NU menampilkan sikap toleransi terhadap nilai-nilai lokal. NU berakulturasi dan berinteraksi positif dengan tradisi dan budaya masyarakat lokal. Dengan demikian NU memiliki wawasan multikultural, dalam arti kebijakan sosialnya bukan melindungi tradisi atau budaya setempat saja, tetapi mengakui manifestasi tradisi dan budaya setempat yang memiliki hak hidup di Republik Indonesia tercinta ini. Sikap ini sesuai dengan inti faham keislaman NU yang sejalan dengan hadis Nabi Muhammad SAW : Al-hikmatu dlaallatul mu’min, fahaitsu wajadaha fahuwa ahaqqu biha. Hikmah atau nilai-nilai positif untuk umat Islam, darimanapun asalnya ambillah karena itu miliknya umat Islam. Proses akulturasi tersebut telah menampilkan wajah Islam yang berkeindonesiaan, wajah yang ramah terhadap nilai budaya lokal dan terbuka dengan nilai-nilai universal yang positif.

NU juga menghargai perbedaan agama, tradisi, dan kepercayaan, yang merupakan yang merupakan warisan budaya Nusantara. Sikap yang demikian inilah yang memudahkan NU diterima di semua lapisan masyarakat di seluruh kepulauan Nusantara. (Lihat di buku hasil-hasil muktamar NU, Pidato Rais Aam PBNU KH. A.M. Sahal Mahfudz Pada Pembukan Muktamar ke-32).

Dalam faham keagamaan, NU menganut Ahlussunnah Waljama’ah, sebuah pola nalar dalam Islam yang merujuk kepada al-qr’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW, serta Sunnah al-khulafa’ ar-Rasyidun. Cara berfikir semacam itu dirujuk dari Ulama terdahulu, seperti Abu Hasan Al- Asyari dan Abu Mansur Al-maturidi dalam bidang teologi. Kemudian dalam bidang fiqih mengikuti empat madzhab: Hanafi, Maliki, Syafi’I, dan Hambali. Sementara dalam bidang tasawuf, NU mengembangkan metode Al-Ghozali dan Junaidi Al- Bagdadi, yang menginterasikan antara tasawuf dengan syariat. Dalam bermasyarakat, NU mempunyai empat sikap kemasyarakatan, yang pertam: Tawasuth dan I’tidal. Tawasuth, yaitu sikap moderat yang berpijak pada prinsip menempatkan diri di tengah-tengah antara dua ujung tatharruf (ekstremisme) dalam berbagai masalah dan keadaan, untuk mencapai kebenaran serta keterlanjuran ke kiri atau ke kanan secara berlebihan. I’tidal berarti tegak lurus, berlaku adil, tidak berpihak kecuali kepada yang benar dan yang harus dibela.

Kedua Tasamuh, yaitu sikap toleran yang berintikan penghargaan terhadap perbedaan pandangan dan kemajemukan identitas budaya masyarakat. Ketiga: Tawazun, sikap seimbang dalam berkhidmat demi terciptanya keserasian hubungan antara manusia dengan Allah SWT. Keempat: Amar ma’ruf nahi munkar, yaitu dua sendi yang mutlak diperlukan untuk menopang tata kehidupan yang diridloi Allah. Amar ma’ruf artinya mengajak dan mendorong perbuatan baik, baik yang bermanfaat bagi kehidupan duniawi dan ukhrowi. Sedangkan nahi munkar artinya menolak dan mencegah segala hal yang dapat merugikan, merusak, merendahkan dan menjerumuskan nilai-nilai kehidupan. Hanya dengan melaksanakan dua gerakan ini (amar ma’ruf dan nahi munkar) kehidupan lahiriyah dan batiniyah kita mencapai kebahagiaan.

TUJUAN Nahdlatul Ulama didirikan dimaksudkan untuk menegakkan ajaran Islam menurut faham Ahlussunnah Waljamaa’h dan menganut salah satu dari empat madzhab empat di tengah-tengah kehidupan mesyarakat, di bawah wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jauh sebelum NU didirikan telah muncul aneka embrio yang mengawali pendirikan NUI. Pada awal kelahiran organisasi kaum pesantren yang dibidani oleh KH Wahab Hasbullah ini,  sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah diawali dengan munculnya beragam organisasi kemasyarakan, yaitu Nahdlatul Wathan, Nahdlatul Tujjar, dan Tashwirul Afkar.
Nahdlatul Wathan didirikan tahun 1916. Berdirianya Nahdlatul wathan ini sebagai modal awal dalam mengorganisasikan kelompok Ahlussunnah Waljamaah dalam agendanya yaitu politik kebangsaan Kemudian pada tahun 1918 KH. Wahab Hasbullah memprakarsai akan adanya sebuah organisasi baru yang bergerak pada sektor ekonomi dengna didirikan sebuah koperasi dagang atau koperasi pedagang dengan dikenal namanya Nahdlatul Tujjar.

Disamping kedua organisasi ini KH Wahab Hasbullah bersama-sama dengan KH. Ahmad Dahlan seorang Ulama terkenal dari daerah Kebondalem Surabaya, juga Kyai Mas Mansur mendirikan sebuah Organisasi yang pada dasarnya masih mengedepankan akan pentingnya sebuah pendidikan yang mana dikemas dengan sedemikian rupa dengan perpaduan model pendidikan Klasikal. Aakan tetapi pada awalnya organisasi ini adalah sebagai Forum curah pendapat serta transaksi gagasan, baik menyangkut persoalan keagamaan, kebangsaan, dan perkembangan Internasional, yang dinamakan dengan Tashwirul Afkar.
Dari ketiga organisasi inilah berdiri sebuah Organisasi Sosial keagamaan yang dinamakan Nahdlatul Ulama, sebuah Organisasi dengan warga terbesar pertama di negeri ini dengan deklarasi awalnya jam’iyyah diniyyah ijtima’iyah dan juga organisasi sosial keagamaan.

Lahirnya Nahdlatul Ulama (NU) sebagai Jam’iyah dilatarbelakangi oleh dua faktor dominan. Pertama, munculnya kekhawatiran terhadap fenomena gerakan Islam modernis yang bertendensi mengikis identitas kultural dan paham keagamaan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang telah hidup dan dipertahankan selama ratusan tahun. Kedua, sebagai respons terhadap pertarungan ideologis yang terjadi di dunia Islam pasca penghapusan kekhalifahan Turki Utsmani, munculnya gerakan Pan-Islamisme yang dipelopori oleh Jamaluddin AlAfghani dan gerakan Wahabi di Hijaz. Kelahiran NU pada tanggal 31 Januari 1926 M / 16 Rajab 1344 H di Kota Surabaya – Jawa Timur – Indonesia, yang sampai sekarang NU mempunyai Gedung Pusat di Jakarta (PBNU) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Sejak didirikan NU hingga kini memiliki Jaringan Organisasi NU meliputi di sejumlah daerah di Indonesia, di mana sedikitnya tercatat 34 Pengurus Wilayah NU se Indonesia, sekitar 500 Pengurus Cabang NU se Indonesia,  lebih 4.630 Majlis Wakil Cabang, dan 47.125 Pengurus Ranting. Kini bahkan PBNU sudah punya 14 Cabang Istimewa di Luar Negeri (data tahun 2010). Bahkan para ulama Afganistan kini pun sudah meresmikan pendirikan NU dengan nama NUA (Nahdlatul Ulama Afghanistan), untuk membina umat Islam agar tidak konflik sesama muslim. Hal yang sama juga dilakukan ulama Lebanon, agar mereka bisa hidup damai, mereka mendirikan NU di sana. NU Resmi berbadan hukum pertama kali, pada tanggal 6 Pebruari 1930 M, yang kemudian diperbaharui pada tahun 1989 M, berdasarkan keputusan Menteri Kehakiman RI No. C2-7028. HT.01.05.TH89.

Setelah NU berdiri dan dapat legalitas resmi dari pemerintah Republik Indonesia, NU semakin bergerak dalam bidang sosial keagamaan, kemasyarakatan, pendidikan dan perekonomian dan hal tersebut dilakukan oleh NU sampai sekarang ini.
Karena perpolitikan yang sangat kacau saat itu, maka NU terlibat di Organisasi MASYUMI (Majlis Syuro Muslimin Indonesia) yang merupakan federasi dari golongan dan partai Islam terbesar di Indonesia di awal kemerdekaan tahun 1945, rupanya memiliki friksi perpecahan di tubuhnya. Salah satunya adalah Nampak bahwa kepentingan golongan lebih diutamakan dibandingkan persatuan organisasi, terutama ketika menghadapi daya tarik posisi politik formal di alam negara. Akhirnya NU keluar dari Masyumi, karena NU tidak dapat untung sama sekali jika gabung sama Masyumi saat itu.  Keputusan keluarnya NU dari MASYUMI dinyatakan dengan resmi pada kongres NU bulan Mei tahun 1952 di Kota Palembang.  Keluarnya NU dari MASYUMI disebabkan beberapa sebab salah satunya adalah Pimpinan pusat Masyumi dinilai telah didominasi oleh kelompok Modernis. Setelah NU keluar dari Masyumi, NU sempat menyatakan diri sebagai Partai Politik yang saat itu konon cerita dipimpin langsung oleh KH. Wahab Hasbullah, bahkan beliau mengatakan kalau gak ada yang mau, maka saya yang akan mimpin sendiri untuk menjadi partai politik saat itu, karena Perpolitikan saat itu sangat kejam sekali.

NU sudah belajar banyak tentang perpolitkan di Indonesia, baru ketika masa orde baru, Akhirnya NU kembali lagi menyatakan diri sebagai organisasi kemasyarakatan sampai sekarang ini, yang saat ini kita kenal dengan istilah NU kembali ke KHITTAH 1926. Khittah NU 1926 yang digulirkan lagi dalam Muktamar ke-27 NU tahun 1984 di Situbondo itu selama ini memang menjadi ganjalan buat para kiai yang ingin terjun membenahi dunia perpolitikan yang sudah sangat sarat dengan kepentingan sesaat dan sudah tidak mengindahkan prinsip moralitas dan idealisme, bahkan idiom agama digunakan untuk sebuah kepentingan meraih target kekuasaan. Tidak sedikit para kiai yang canggung atau mungkin setengah hati menggeluti dunia politik karena adanya kekhawatiran dengan keterlibatan secara intens di dunia politik, berarti telah melanggar Khittah NU.

Padahal jika kita menggunakan pendekatan kesejarahan, atau latar sosio-historis munculnya “teks Khittah NU” pada tahun 1984 itu, kita akan segera tahu sesungguhnya teks Khittah NU itu bukan bermakna lari dari politik tetapi sebetulnya sejenis “siasat politik kiai untuk mendapatkan akses kekuasaan (kembali)”. (lihat di website Nu online, tulisan Rois Syuriyah Jawa Timur KH.Miftachul Akhyar tentang Ktittah NU 1926: sebuah tafsir pemahaman).  Setelah NU resmi menyatakan kembali memilih sebagai Organisasi Keagamaan, Kemasyarakatan, akhirnya NU memaksimalkan bergerak dibidang Sosial keagamaan, kemasyarakatan, pendidikan, perekonomian.
Konsekwensi NU memilih kembali ke KHITTAH 1926, maka NU memilih jarak sosial yang netral dengan kekuatan politik dan pemerintah. NU menempatkan diri sebagai organisasi keagamaan yang mandiri dan independen. NU memiliki sikap politik ada di mana – mana tetapi tidak ke mana – mana. Artinya NU mempersilahkan warganya memilih dan menyalurkan aspirasi politiknya kepada parpol manapun, atau memilih jalur profesi apapun, yang penting mereka selalu sadar bahwa dirinya sebagai warga nahdliyin.

Tapi saat ini tidak sedikit warga NU yang masuk partai politik. dan gak mau kembali lagi ngurusi NU, malah musuhi NU, meremehkan NU, bahkan mereka dijadikan pengurus partai tersebut. mereka masuk partai politik yang mengatakan dirinya partai Islam/partai dakwa, dan partai tersebut mendoktrin warga NU jadi kelompok mereka yang militan, yang mana militannya melebihi saat dia jadi Anggota NU. Contohnya ada di Sudan dan dibeberapa negara Timur tengah.

Dalam hal tertentu NU bisa bersikap tawaquf atau mendukung kebijakan pemerintah, namun dalam hal lain NU bersikap kritis terhadap setiap kebijakan yang dianggap tidak sejalan dengan visi kebangsaan yang telah dirumuskan bersama. Oleh karena itu  tidak heran kalau NU sampai Go-Internasioanl.  Sebab Pemikiran NU sangat diterima di dunia Interasional, dan NU adalah ormas Islam yang berciri moderat maka dari itu NU sangat dibutuhkan oleh negara yang sedang menghadapi ancaman terorisme.

NU sebagai cermin bangsa Indonesia khususnya umat Islam, sehingga untuk melihat dinamka Islam Nusantara bahkan Islam non Arab, NU yang sering dijadikan sebagai tolak ukur. Banyak Ulama Internasional yang selama ini belajar dari NU. Mereka mengikuti paham keagamaan yang dirumuskan oleh NU yang cukup berbeda dengan yang ada di Arab. Justru ini menarik untuk mereka pelajari bahkan mulai mereka terapkan di negara mereka masing-masing, yang selama ini para santri dan ulama kita yang belajar ke sana. Hal itu lebih tegas terlihat ketika para ulama di berbagai belahan dunia Timur tengah, baik di Sudan, Maroko, Libanon, Syria dan sebagainya yang ingin bergabung dengan NU, padahal mereka itu beragam aliran, ada Sunni dan ada yang Syi’i.  NU dikenal di dunia Internasioal semenjak PBNU dipimpin “Gus Dur” (Presiden RI ke-4 yang juga Ketua Umum PBNU periode 1984-1999). Dan setelah itu diteruskan oleh Ketua Umum PBNU KH.A.Hasyim Muzadi dengan program ICIS (International Conference of Islamic scholars) yang mengenalkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, dalam Acara tersebut ICIS mengundang para Ulama, Ilmuwan dan Cendekiawan muslim seluruh dunia, yang diadakan tiga kali di Ibu kota Jakarta-Indonesia.

Pada Muktamar NU ke-30 tahun 1999 di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri-Jawa Timur, muncul sebuah pemikiran mendirikan Cabang NU di Luar negeri yang diberi nama PCINU (Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama). Saat musim haji tahun 2010 PCI-NU (Pengurus Cabang Istimewa NU) mengadakan acara “silaturrahmi Internasional ke-11 NU Luar negeri” di Mekkah, yang dihadiri oleh 14 Cabang Istimewa yang ada di luar negeri. Tetapi sekarang PBNU sudah punya 19 Cabang Istimewa di Luar Negeri baik di Timur tengah, Afrika, Asia dan Barat, sebagaimana berikut : (PCINU Amerika, PCINU Asutralia, PCINU Inggris, PCINU Yaman, PCINU Libanon, PCINU Syria, PCINU Mesir, PCINU Taiwan, PCINU Malaysia, PCINU Jepang, PCINU Pakistan, PCINU Libya, PCINU Mesir, PCINU Yordania, PCINU Rusia, PCINU Belanda, PCINU Jerman, PCINU Arab Saudi, PCINU Sudan).

Kini NU sebagai jam’iyah terus melakukan beragam kegiatan. Kegiatan utamanya adalah untuk menyebarkan akidah Islam ahlussunnah wal jamaah dengan tujuan izzul islam wal muslimin / kejayaan islam dan umat islam. Sehingga sebagai jamiyah diniyah, kegiatan pokok NU yaitu melaksanakan dakwah Islam dalam rangka amar makruf (perintah kebaikan) dan nahi munkar (mencegah kemaksiatan).

Berbagai cara dilakukan diantaranya dengan lailatul ijtima’/kegiatan rutin bulanan, dimana para kiyai dan ustad memberikan pengajian tentang islam dan faham ahlussunnah waljamaah. Selain itu juga dilaksanakan kegiatan lain diantaranya tahlilan, dibaan manaqib, istighotsah diberbagai masjid, musholla dan rumah rumah. Selain itu kegiatan dakwah juga dilakukan berbagai pada peringatan hari besar islam (PHBI). Sasaran kegiatan dakwah yaitu seluruh umat islam, terutama warga NU. Tujuannya agar mereka mengenal NU dan ajarannya serta meyakini kebenaran islam yang azas ahlussunnah wal jamaah.

Selain itu, NU juga hadir sebagai Ijtimaiyah artinya perkumpulan / organisasi kemasyarakatan. Karena itu, sebagai organisasi keagamaan yang kegitannya tidak terbatas pada bidang agama saja tapi juga pada bidang kemasyarakatan. NU juga melakukan usaha dibidang pendidikan, ekonomi, kesehatan dll dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan umat. Di bidang pendidikan NU berusaha meningkatkan kualitas pendidikan dengan menata dan mengembangkan lembaga pendidikan seperti pondok pesantren, madrasah dan sekolahan bahkan sampai ke perguruan tinggi, yang menanganinya yaitu : LP Maarif dan RMI.

Sementara dibidang ekonomi, NU berusaha meningkatkan kesejahteraan umat  yang terutama diarahkan kepada kalangan ekonomi lemah meliputi bidang pertanian, perikanan, kerajinan dan industri kecil. Lembaga yg menanganinya LPNU/lembaga perekonomian NU dan  LPPNU/lembaga pengembangan pertanian. Di bidang kesehatan, kemaslahatan dan kesejahteraan NU yang ditangani oleh Lembaga kemaslakhatan keluarga (LKKNU) dan lembaga peningkatan kesehatan (LPKNU) serta badan otonom seperti fatayat dan muslimat.

Hal yang paling pokok di NU adalah soal kepemimpinan. Maka dalam hal ini peran ULAMA menjadi penting. NU mempunyai ciri khas yg membedakan dengan organisasi lain yaitu menempatkan para ulama’ sebagai pemimpin tertinggi artinya ulama’ memgang kendali kebijakan, gerak dan pengawasan sehingga NU tetap pada tujuan utamanya.

Demikianlah sekilas tentang Nahdlatul Ulama. Sebagai organisasi sosial keagamaan {jam’iyah diniyah islamiah} yang berhaluan Ahli Sunnah wal-Jamaah kini usianya memasuki usia ke-90 tahun. Bulan Agustus 2015 ini akan menyelenggarakan Muktamar ke-33, yang akan menentukan masa depan organisasi ini. Yang luar biasa adalah, setelah teraniaya selama pemerintahan Soeharto, pasca reformasi telah berdiri 33 Perguruan Tinggi NU, mulai dari Akademi / Politeknik, sampai Universitas. Universitas NU kini hadir hampir di seluruh wilayah di Indonesia, seperti di pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan tentu saja di pulau Jawa.

Untuk pulau Kalimantan ada di Timur, Barat dan Selatan. Khusus di Kalimantan Selatan sudah beroperasi sejak tahun akademik 2015-2016. Ada 10 Program Studi yang dijinkan di Universitas NU Kalimantan Selatan, yaitu : Program Studi Farmasi, Teknik Sipil, Teknik Arsitektur, Perencanaan Wilayah dan Kota / Planologi, Teknologi Informatika, Agribisnis, Pendidikan Matematika, Pendidikan Bahasa Inggris, PGSD / MI dan Akuntansi.

 

 

Bagikan ke sosial media

One thought on “UNU Kalsel : Dari NU untuk Banua Maju

Leave a Reply